Tunggu Kepastian RI Lanjut Resesi atau Tidak, Rupiah Melemah

avatar
· 閱讀量 117

Tunggu Kepastian RI Lanjut Resesi atau Tidak, Rupiah Melemah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) Sentimen eksternal dan domestik memang sedang kurang berpihak kepada mata uang Tanah Air.

Pada Rabu (5/5/2021), US$ 1 setara dengan Rp 14.430 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,03% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Hari ini, terdapat sejumlah faktor yang akan mempengaruhi gerak rupiah. Dari sisi eksternal, kekhawatiran investor (dan seluruh dunia) terhadap pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) masih sangat besar.

India tentu masih menjadi sorotan dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, jumlah pasien positif corona di Negeri Bollywood per 4 Mei 2021 adaah 20.282.833 orang. Bertambah 357.229 orang dari hari sebelumnya.

Dalam dua minggu terakhir, rata-rata pasien positif bertambah 354.410 orang per hari. Melonjak dibandingkan rerata dua pekan sebelumnya yakni 188.217 orang per hari.

amun bukan cuma India, negara-negara tetangga di ASEAN juga mengalami tren kenaikan jumlah kasus positif. Misalnya di Malaysia, di mana per 3 April 2021 jumlah pasien positif tercatat 415.012 orang, Bertambah 3.418 orang dari hari sebelumnya.

Dalam sepekan hari terakhir, rata-rata tambahan pasien baru adalah 3.153 orang. Lebih tinggi dibandingkan rerata tujuh hari sebelumnya yaitu 2.555 orang. Peningkatan kasus terjadi dalam lima pekan berturut-turut.

Kasus aktif juga meningkat pesat. Per 2 Mei 2021, jumlah kasus aktif adalah 30.339 orang, tertinggi sejak 24 Februari 2021.

Oleh karena itu, Indonesia tidak bisa berleha-leha. Ancaman virus corona masih sangat nyata dan belum saatnya mengendurkan kewaspadaan.

Sementara dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2021. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kontraksi atau tumbuh negatf 0,87% pada tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).Artinya, kontraksi ekonomi akan terjadi dalam empat kuartal beruntun alias tepat setahun. Indonesia masih terjebak di 'jurang' resesi ekonomi.

Konsumsi rumah tangga sepertinya memang belum 'trengginas' pada awal 2021. Ini terlihat dari angka Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang masih di bawah 100. Artinya, konsumen belum percaya diri melihat kondisi perekonomian.

Pada kuartal I-2021, rata-rata IKK adalah 88,02. Jauh di bawah rerata kuartal I-2020 yang mencapai 117,7, berada di zona optimistis.

Belum lagi bicara penjualan ritel. Pada kuartal I-2021, rata-rata penjualan ritel yang dicerminkan dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) berada di 180,47. Jauh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 217,93%.

Dua data tersebut mencerminkan bahwa konsumsi rumah tangga masih tertatih-tatih. Padahal konsumsi rumah tangga adalah kontributor utama dalam pembentukan PDB dengan sumbangsih lebih dari 50%.

Namun kontraksi PDB Indonesia pada kuartal I-2021 lebih landai ketimbang tiga kuartal sebelumnya. Ini karena penyumbang lain, yaitu investasi dan ekspor, sudah lebih dulu pulih.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) melaporkan realisasi investasi kuartal I-2021 adalah Rp 219,7 triliun, tumbuh 4,3% yoy. Sementara ekspor tumbuh impresif, mencapai 17,11% yoy.

Sembari menunggu data BPS, sepertinya investor memilih untuk menahan diri. Sikap ini membuat aliran modal yang masuk ke pasar keuangan Ibu Pertiwi menjadi terbatas sehingga rupiah kekurangan tenaga untuk perkasa.


Diunggah ulang dari CNBC Indonesia, semua hak cipta dimiliki oleh penulis asli.


風險提示:本文所述僅代表作者個人觀點,不代表 Followme 的官方立場。Followme 不對內容的準確性、完整性或可靠性作出任何保證,對於基於該內容所採取的任何行為,不承擔任何責任,除非另有書面明確說明。

喜歡的話,讚賞支持一下
回覆 0

暫無評論,立馬搶沙發

  • tradingContest