
nvestasi maupun trading foreign exchange (forex) atau valuta asing belakangan banyak jadi kedok penipuan. Modusnya beragam, misalnya, jualan robot trading ilegal berskema ponzi dan binary option yang ternyata mirip judi online.
Jual-beli forex atau valuta asing memang banyak digemari, karena potensi imbal hasilnya tinggi. Namun, di sisi wajah yang lain, peluang buntungnya juga setimpal.
Menurut Ekonom dan Praktisi Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo, trading forex makin populer karena efek digitalisasi.
"Jadi transaksi itu dapat dilakukan dengan menggunakan platform atau software. Transaksinya itu justru lebih besar, lebih likuid, lebih fluktuatif dengan mata uang yang lebih banyak," kata Lucky.
Menurut Lucky, animo masyarakat untuk trading forex lebih besar ketimbang saham. Profil risikonya lebih tinggi, kinerjanya pun ibarat roller coaster.
"Karena setiap kondisi ekonomi yang berubah, itu pengaruhnya paling cepat ke mata uang terlebih dahulu. Saham memang dapat terpengaruh, tapi fluktuasi itu lebih cepat di forex," ujar Lucky.
Ada sejumlah mata uang utama yang diincar pelaku pasar, yakni dolar Amerika, dolar Australia, euro, poundsterling dan yen.
Forex paling tinggi risikonya dibanding instrumen lain karena ada sistem margin call.
"Suatu saat nilainya turun, kalau kita tidak menambahkan uang atau tidak menambahkan modal otomatis akan dipotong atau di-break oleh sistem itu sendiri. Karena dianggap tidak menambah kemampuan untuk mengatasi penurunan nilai forex tersebut," terang dia.
Bagi yang ingin terjun ke trading forex, Lucky mengingatkan untuk memakai uang dingin, bukan dana sehari-hari maupun dana darurat.
"Siapkan dulu anggaran yang benar-benar kita perkirakan untuk ini (investasi forex). Apabila terjadi floating loss atau memang nanti pergerakannya tidak sesuai harapan, itu tidak mental blocking," saran Lucky.
Dicetak ulang dari Uang Bicara, hak cipta isi berita dimiliki oleh pemilik asli.
風險提示:本文所述僅代表作者個人觀點,不代表 Followme 的官方立場。Followme 不對內容的準確性、完整性或可靠性作出任何保證,對於基於該內容所採取的任何行為,不承擔任何責任,除非另有書面明確說明。
