
Wakil Ketua DPR Bidang Korinbang, Rachmat Gobel, mengungkapkan investasi bodong semakin marak di tengah pandemi COVID-19. Ia meminta masyarakat tidak gampang tergoda iming-iming keuntungan tinggi dari investasi tersebut.
Gobelmenegaskan investasi bodong harus segera ditutup karena bisa merugikan banyak masyarakat, termasuk yang ada di daerah.
“Dua tahun pandemi, investasi bodong sangat agresif di daerah-daerah. Saat itu masyarakat memang tak banyak kegiatan dan aktivitas ekonomi pun menurun. Dalam kondisi itulah masuk janji-janji surga tapi yang terjadi malah kecebur masuk neraka," kata Rachmat Gobel melalui keterangan tertulis Kamis (14/7).
"Karena itu saat itu saya sudah teriak tutup dulu bisnis fintech atau lakukan moratorium agar masyarakat tak banyak terjerumus,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Rachmat Gobel saat acara Penyuluhan Jasa Keuangan tentang Waspada Investasi yang diadakan OJK di Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, Dalam acara itu hadir Kepala Regional OJK untuk Sulawesi, Maluku, dan Papua, Darwisman, dan juga Kepala Kantor UJK untuk provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara, Winter Manurung.
Gobel menyebut masyarakat Gorontalo termasuk yang banyak tertipu investasi bodong, khususnya untuk jenis forex trading. Berdasarkan data OJK, kata Gobel, untuk Boalemo saja nilai kerugian masyarakat mencapai Rp 800 miliar. Padahal, sebagai perbandingan, nilai APBD Boalemo hanya Rp 700 miliar. Adapun Pohuwato, kabupaten lain di Gorontalo, nilai kerugian masyarakat jauh lebih besar yaitu hampir Rp 3 triliun.
Data OJK menyebutkan secara nasional total kerugian masyarakat akibat investasi bodong mencapai Rp 117,4 triliun. Padahal OJK telah menutup sekitar 3 ribu aplikasi investasi online yang tak berizin. Gobel menganggap bisnis investasi digital, seperti forex trading dan fintech, mulai marak di daerah-daerah di masa pandemi COVID-19.
Lebih lanjut, Gobel mengingatkan masyarakat dalam berusaha harus terbiasa dengan nalar yang logis dan kerja keras berkeringat. “Bukan dengan mimpi dengan dijanjikan keuntungan besar yang tak proporsional dengan duduk diam,” kata Gobel.
Ia tidak mau masyarakat terbuai mimpi dan janji-janji surga dalam mencari rezeki. “Biasakan dalam mencari uang dengan cara berkeringat. Jangan mudah tergoda angin surga dan mimpi-mimpi,” tambahnya.
Gobel mengatakan Gorontalo sebetulnya merupakan salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Namun ternyata kemiskinan itu menjadi sasaran para penipu berkedok investasi.
“Ternyata pula jumlah dana yang terhimpun cukup besar. Artinya ini potensi yang baik. Bagaimana dana masyarakat itu bisa dihimpun untuk membangun kampung halaman,” kata Gobel.
Menurutnya, pemerintah harus mampu menggerakkan potensi masyarakat. “Jadikan mereka sebagai tuan rumah di kampung halamannya sendiri,” pintanya.
Dicetak ulang dari Kumparan, hak cipta isi berita dimiliki oleh pemilik asli.
風險提示:本文所述僅代表作者個人觀點,不代表 Followme 的官方立場。Followme 不對內容的準確性、完整性或可靠性作出任何保證,對於基於該內容所採取的任何行為,不承擔任何責任,除非另有書面明確說明。
