
Harga emas (XAU/USD) mengalami tekanan dan bergerak turun mendekati level $4.650 per troy ounce pada awal pekan. Saat sesi Asia berlangsung, emas sempat diperdagangkan di kisaran $4.670, namun kesulitan melanjutkan kenaikan akibat sentimen pasar yang berubah.
Tekanan utama datang dari lonjakan harga energi, khususnya minyak, yang kembali memicu kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini membuat ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed dan bank sentral lainnya semakin melemah, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset non-yielding. Di sisi lain, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak tajam sekitar 8,5% dan diperdagangkan di kisaran $98 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Presiden AS Donald Trump bahkan mengumumkan rencana untuk memblokade jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz, setelah perundingan damai dengan Iran gagal. Langkah ini diperkuat oleh pernyataan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang akan mulai membatasi lalu lintas maritim ke dan dari pelabuhan Iran. Situasi tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, yang pada akhirnya mendorong harga minyak naik lebih tinggi dan memperbesar tekanan inflasi.
Dari sisi data ekonomi, inflasi Amerika Serikat juga menunjukkan kenaikan. Indeks Harga Konsumen (CPI) tahunan naik menjadi 3,3% pada Maret, dari sebelumnya 2,4%. Secara bulanan, inflasi melonjak 0,9%, sementara inflasi inti tercatat naik 2,6% secara tahunan. Kenaikan inflasi ini memperkuat pandangan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dampaknya, Dolar AS tetap kuat dan menahan kenaikan harga emas.
Dengan kombinasi tekanan inflasi, penguatan Dolar AS, serta ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pergerakan emas diperkirakan akan tetap volatil dalam waktu dekat.
風險提示:本文所述僅代表作者個人觀點,不代表 Followme 的官方立場。Followme 不對內容的準確性、完整性或可靠性作出任何保證,對於基於該內容所採取的任何行為,不承擔任何責任,除非另有書面明確說明。

-THE END-