
Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan tipis pada perdagangan Jumat (29/5) pagi. Mata uang Garuda berada di level Rp17.836 per dolar AS atau naik sekitar 9 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Penguatan rupiah terjadi seiring pergerakan sejumlah mata uang Asia yang juga terapresiasi terhadap dolar AS. Yuan China menguat 0,05 persen, peso Filipina naik 0,27 persen, dan ringgit Malaysia turut menguat 0,27 persen.
Meski demikian, tidak semua mata uang Asia bergerak positif. Dolar Singapura melemah 0,05 persen, yen Jepang turun 0,04 persen, won Korea Selatan terkoreksi cukup dalam sebesar 0,52 persen, sementara dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Di pasar mata uang negara maju, pergerakan terlihat cenderung bervariasi. Euro Eropa melemah 0,05 persen, poundsterling Inggris turun 0,04 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,03 persen. Sementara itu, franc Swiss menguat tipis 0,01 persen dan dolar Kanada bergerak relatif stabil.
Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan di tengah melemahnya dolar AS secara global.
Menurutnya, tekanan terhadap dolar AS muncul setelah laporan mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperpanjang gencatan senjata. Selain itu, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan pasar turut menekan pergerakan dolar AS.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil dan menguat pada perdagangan hari ini.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sambil menunggu perkembangan lanjutan terkait geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
風險提示:本文所述僅代表作者個人觀點,不代表 Followme 的官方立場。Followme 不對內容的準確性、完整性或可靠性作出任何保證,對於基於該內容所採取的任何行為,不承擔任何責任,除非另有書面明確說明。

-THE END-